Mario Iroth Explore Afrika: Hari ke-118 di Rwanda yang Indah

Pagi yang indah di perbatasan Rwanda dari border Rusumo. Mario Iroth menggeber sepeda motor trailnya, Honda CRF250Rally. Keseruan menikmati perjalanan buyar manakala seorang warga lokal mengejarnya dengan sepwda motor.

Klakson sang pengejar terus ditekan. Ada apa kah di jalan perbatasan tersebut. Mario bingung apa yang dia sampaikan karena tidak mengerti bahasanya. Namun setelah beberapa saat di depan ada trailer datang dan kelihatan mengambil jalur dia di sebelah kiri. “Namun setelah saya amati tanda panah di jalan, rupanya saya salah posisi berkendara,” ungkapnya terkekeh.

Rwanda menerapkan posisi berkendara di sebelah kanan mirip Eropa, sementara Mario masih mengikuti posisi berkendara di Tanzania negara sebelumnya yang mirip di Indonesia yakni sebelah kiri. Dia pun langsung mengubah arah berkendara di sebelah kanan sambil ketawa sendiri. Tak berapa lama sampailah tim Wheels Story season 5 ini di gedung Imigrasi. Di sini ‘one stop border post’ atau kantor imigrasi dan custom Tanzania & Rwanda dalam satu atap.

Dan ini merupakan proses imigrasi dan custom tercepat selama di Afrika, bagaimana tidak karena untuk orang Indonesia mendapat free visa masuk Rwanda. Motor Mario hanya di-cap dan ambil voucher carnet, selesai dan langsung gas!

Tiba di Rwanda, Mario sudah 112 hari meninggalkan Indonesia. Di speedo meternya, angka perjalanan sudah menunjukkan 17.050 Km. Waw, hampir empat bulan dia melakoni riding explore Afrika tersebut.

Beberapa km pertama riding di Rwanda Mario mengaku sudah bisa merasakan perbedaan dengan negara sebelumnya. Terlihat mulai ramai warga lalu lalang dengan sepeda dan sepeda motor. Maka kecepatan berkendara di pemukiman dibatasi 40 km/jam sedangkan ‪jalan raya 80‬ km/jam. Jalannya banyak kelokan, tanjakan dan turunan.

Landscape disini memang daerah pegunungan makanya Rwanda dijuluki negeri seribu bukit. Warganya ramah dan bersahabat. Bahasa yang dipakai di Rwanda adalah Bahasa Inggris, Perancis dan Kinyarwanda.

ketika sedang rehat di pom bensin salah satu kota kecil sebelah Timur Rwanda, Setiap orang yang lewat suka menyapa dan murah senyum termasuk anak-anak yang baru pulang sekolah melihat motor. Keberadaan Mario bagaikan hiburan tersendiri karena penasaran dengan bentuk motor yang beda dengan biasanya dan pakaian berkendara lengkap dari atas sampai bawah.

Perjalanan menuju Kigali ibu kota Rwanda memang asik, jalanan mulus penuh kelokan, melihat pedesaan dan warga yang lalu lalang di pinggir jalan tak ada habisnya, belum lagi motor taksi (Boda Boda) lalu lalang. Dan sampai di Kigali dia menyempatkan untuk nongkrong di sebuah kafe pusat kota.

Dengan populasi sekitar 11,2 juta orang, Rwanda terlihat padat untuk negara kecil. Namun jangan heran kalau negara ini sangat bersih, penggunaan tas plastik dilarang dan recycle paper bag sebagai penggantinya. “Suasana kota yang adem dan aman, ya sangat aman disini, saya bisa pastikan karena saya parkir motor diluar dengan sidebags masih melekat di motor dan motor tidak dikunci kemudi aman-aman saja,” ceritanya.

Perjalanan dilanjutkan ke arah barat hingga Danau Kivu. Ini menjadi tempat terindah yang pernah dia kunjungi. Melihat danau yang luas dan bersih dikelilingi perbukitan hijau dan sejuk, berada pada ketinggian sekitar 1.400 Mdpl memang bikin betah. “Rwanda menjadi negara favorit selama petualangan Wheel Story di Afrika saat ini,” ujar Mario.

0

Post Tags: # #
Published by : am | ON : 09 Feb 2018

Comments

Comments are closed.